Oleh :Pulo Lasman Simanjuntak
Memasuki pertengahan tahun ini beberapa daerah di Indonesia mulai dilanda kekeringan,bahkan dilaporkan ribuan hektar areal persawahan mengalami puso. Jaringan irigasi sekunder dan tersier mulai kekurangan air baik bersumber dari waduk maupun bendungan yang ada.
Para penduduk terutama yang bermukim di kawasan sulit air juga telah mengalami krisis air bersih, lantaran air tanah yang selama ini dipakai untuk keperluan sehari-hari permukaan air tanahnya juga telah mengalami kekeringan.
Pada bulan Juli 2008 lalu BMG memprakirakan curah hujan di Indonesia pada umumnya berada di tingkat rendah sampai dengan menengah (0-300 mm). Wilayah Aceh Bagian Utara, Palembang, Jambi bagian Timur, Lampung, Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah, Kalimantan Batat bagian selatan dan kalimantan Timur bagian timur merupakan wilayah yang curah hujannya berada pada kategori rendah dan untuk wilayah selain wilayah tersebut di atas, curah hujannya berada pada kategori menengah.
Sedangkan khusus mengenai kekeringan yang menimpa beberapa wilayah persawahan di beberapa daerah memasuki musim kemarau tahun ini antara lain dikarenakan ketidakpatuhan para petani dalam mengikuti pola tanam yang telah disepakati antara panitia irigasi dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).
Demikian dikatakan oleh Menteri Pekerjaan Umum Ir.Djoko Kirmanto dalam jumpa pers mengenai kekeringan di Jakarta, baru-baru ini.Sebenarnya para petani sudah tahu jika pada musim kemarau tidak semua areal boleh ditanami padi. Namun, mereka tetap memaksakan diri untuk menanam padi dengan harapan akan turun hujan sewaktu-waktu.Jadi, memang ada unsur spekulasinya,jelasnya.
Menurut Menteri PU, permasalahan lain yang turut menganggu produksi beraas nasional ilah telah terjadinya perubahan iklim dan kerusakan lingkungan hidup.Walaupun harus menghadapi permasalahan tersebut, Menteri PU.Ir.Djoko Kirmanto optimis produksi beras nasional tidak akan mengalami gangguan.
Berdasarkan rapat koordinasi dengan instansi-instansi terkait seperti Dep.Pertanian dan Badan Urusan Logistik diketahui bahwa beberapa lumbung padi nasional tetap mampu memproduksi beras dalam kuantitas yang menggembirakan.Produksi beras provinsi Jawa Timur diperkirakan akan surplus 2 juta ton, sementara produksi Sulawesi Selatan akan berjumlah 1,5 juta ton dengan jumlah tersebut masalah ketersediaan beras akan aman hingga bulan April tahun 2009,ucapnya.
Menyinggung tentang kondisi waduk memasuki musim kering tahun ini, Menteri Pekerjaan Umum Ir.Djoko Kirmanto mengatakan pembangunan waduk pada suatu wilayah sungai harus memenuhi persyaratan antara lain aspek topografi dan geologis. Sebab,, tidak semua sungai bisa dibangun waduk karena persyaratan kedua aspek tersebut.
Pada saat ini, dari total 6,7 juta Ha lahan irigasi di Indonesia, hanya 800 ribu Ha atau 11 persen saja yang telah diairi melalui jaringan irigasi teknis.Selain harus memenuhi persyaratan topografi dan geologis, pembangunan waduk baru juga kerap terkendala ketersediaan lahan dan aspek dana pembangunan.Dep.PU melalui Direktorat jenderal Sumber Daya Air atau SDA telah melakukan inventarisasi kondisi seluruh waduk di Indonesia.
Berdasarkan data sementara memang terjadi kerusakan pada beberapa waduk.Namun, kerusakan tersebut secara umum tidak berdampak terhadap kemampuan layanan waduk tersebut terhadap areal persawahannya.Contohnya Bendung Cibanten, dalam laporannya rusak berat, namun setelah saya cek di lapangan memang ada kerusakan pada bagian hilirnya, tetapi tidak ada dampak yang merugikan terhadap lahan sawah yang diairinya,:katanya.
Sementara itu dari hasil pemantauan 63 waduk per 30 Juli tahun 2008 dapat dilaporkan kondisi ketersediaan air, sebagai berikut;
Jawa Barat (status 28 Juli 2008) dari 3 waduk utama di Jawa Barat, 1 waduk yaitu Waduk saguling dalam kondisi normal, sedangkan 2 waduk lainnya yaitu Waduk Cirata dan Waduk Djuanda dalam kondisi waspada.
Jawa Tengah, dari 4 waduk utama yaitu Waduk Kedung Ombo dan Wonogiri dalam kondisi normal, sedangkan 2 waduk lainnya yaitu Waduk Sempor dan wadaslintang (status 29 juli 2008), dalam kondisi waspada.
DI.Yogjakarta, Waduk Sermo dalam kondisi waspada.
Jawa Timur, dari 5 waduk utama di Jawa timur, 3 waduk yaitu Waduk Selorejo, Bening, dan Wonorejo dalam kondisi normal, sedangkan 2 waduk lainnya yakni Waduk Sutami dan Lahor, dalam kondisi waspada. Untuk kondisi waduk-waduk kecil lainnya (status 30Juni 2008) seluruhnya dalam kondisi normal.
Lampung, Waduk Batutegi berada dalam kondisi 11,98 m di bawah pola operasi kering.
Sulawesi Selatan (status 30 Juli 2008), dari 3 waduk utama di Sulawesi Selatan, 2 waduk yaitu Waduk Kaloladan Salomeko, dalam kondisi normal, sedangkan Waduk Bili-Bili dalam kondisi waspada.
Dilaporkan daerah irigasi (DI) yang sudah mengalami kekeringan adalah sebagai berikut:
Provinsi Banten (status 30 Juni 2008), luas terkena kekeringan 9.403 Ha, luas puso 252 Ha. Provinsi Jawa Barat (status 1 Juli 2008), luas terkena kekeringan 37.095 Ha, luas puso 100 Ha. Provinsi Jawa Tengah (status 30 Juni dan 1 Juli 2008), luas terkena kekeringan 43.493 Ha.Provinsi Jawa Timur (30 Juni 2008), luas terkena kekeringan 11.931 Ha.
Langkah antisipasi dalam menghadapi dampak kekeringan yakni pengamanan awal musim tanam (MT) melalui pengelolaan air, pemberdayaan petani, penyediaan prasarana sumberdaya air.
Sedangkan untuk mengantisipasi ketersediaan air bersih di perkotaan dan perdesaan, langkah antisipasi yang perlu dilakukan untuk meringankan beban masyarakat dalam menghadapi musim kemarau tahun 2008 adalah peringatan dini (early warning) tentang ketersediaan air baku.
Kemudian menyebarluaskan informasi BMG terakhir ke seluruh daerah, Pemko/Pemkab dan PDAM, memantau perkembangan kondisi kemarau di daerah-daerah rawan kekeringan, mengadakan dropping air bersih melalui mobil dan hidran umum kepada daerah-daerah yang mengalami rawan air bersih.
Upaya-upaya yang bersifat preventif, misalnya memperkenalkan teknologi pemanenan air hujan serta jaringan penangkap aliran permukaan terutama pada daerah-daerah yang seringkali dilanda krisis air bersih karena kondisi alamnya yang memang kering.
Meningkatkan kapasitas resapan air pada beberapa wilayah yang kondisi tanahnya memungkinkan terjadinya resapan air, misalnya dengan membuat sumur-sumur resapan air hujan guna meningkatkan ketersediaan air tanah sekaligus mengurangi beban jaringan drainase.
|